Desain Grafis
dan Desain Animasi
DESAIN GRAFIS
Desain
grafis itu adalah seni dalam berkomunikasi menggunakan tulisan, ruang, dan
gambar. Bidang ini merupakan bagian dari komunikasi visual. Desain Grafis
berasal dari 2 buah kata yaitu Desain dan Grafis, kata desain berarti proses
atau perbuatan dengan mengatur segala sesuatu sebelum bertindak atau merancang.
Sedangkan grafis adalah titik atau garis yang berhubungan dengan cetak
mencetak. Jadi dengan demikian desain grafis adalah kombinasi kompleks antara
kata-kata, gambar, angka, grafik, foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran
khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-elemen ini,
sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus atau sangat berguna
dalam bidang gambar. Ilmu desain grafis mencakup seni visual, tipografi, tata
letak dan desain interaksi.
Desain grafis pada awalnya diterapkan
untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur. Perkembangan
zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik, yang sering kali
disebut sebagai desain interaktif atau desain multimedia. Batas dimensi pun telah
berubah seiring perkembangan pemikiran tentang desain. Desain grafis bisa
diterapkan menjadi sebuah desain lingkungan yang mencakup pengolahan ruang.
DESAIN ANIMASI
Animasi adalah gambar begerak
berbentuk dari sekumpulan objek (gambar) yang disusun secara beraturan
mengikuti alur pergerakan yang telah ditentukan pada setiap pertambahan
hitungan waktu yang terjadi. Gambar tersebut dapat berupa gambar makhluk hidup,
benda mati, ataupun tulisan. Animasi berasal dari bahasa inggris yaitu animate
yang artinya menghidupkan, memberi jiwa dan mengerakan benda mati. Animasi
merupakan proses membuat objek yang asalnya objek mati, kemudian disusun dalam
posisi yang berbeda seolah menjadi hidup. Di dalam animasi ada dua objek
penting, yaitu objek atau gambar dan alur gerak.
Animasi secara umum dapat dikatakan
sebagai suatu sequence gambar yang ditampilkan pada tenggang waktu (timeline)
tertentu sehingga tercipta sebuah ilusi gambar bergerak.
Prinsip dasar animasi ditemukan dari
karakter mata manusia yaitu : persistance of vision (pola penglihatan yang
teratur). Paul Roget, Joseph Plateau dan Pierre Desvigenes, dengan alat optik
yang mereka ciptakan, berhasil membuktikan bahwa mata manusia cenderung
menangkap urutan gambar-gambar pada tenggang waktu tertentu sebagai sebuah
pola.
Jenis Animasi
itu sendiri ada empat menurut Hofstetter, yaitu:
1. Frame
Animation
Frame animation adalah suatu animasi
yang dibuat dengan mengubah objek pada setiap frame. Objek-objek tersebut
nantinya akan tampak pada lokasi-lokasi yang berbeda pada layar.
2. Vector
Animation
Vector animation adalah suatu animasi
yang dibuat dengan mengubah bentuk suatu objek.
3.
Computational Animation
Computational animation adalah uatu
animasi yang dibuat dengan memindahkan objek berdasarkan koordinat x dan y.
Koordinat x untuk posisi horizontal dan posisi y untuk posisi vertikal.
4. Morphing
Morphing adalah peralihan satu bentuk
objek ke bentuk objek lainnya dengan memanipulasi lebih dari satu frame
sehingga nantinya akan dihasilkan keseluruhan gerakan yang sangat lembut untuk
perubahan bentuk satu ke bentuk lainnya.
Animasi juga disebut sebagai suatu
teknik menampilkan gambar berurut sedemikian rupa sehingga penonton merasakan
adanya ilusi gerakan (motion) pada gambar yang ditampilkan. Ilusi gerakan
merupakan perubahan yang dideteksi secara visual oleh mata sehingga perubahan
yang terjadi tidak harus dalam bentuk gerakan, tetapi juga bisa berupa
perubahan warna.
SEJARAH
ANIMASI
Berdasarkan tinjauan sejarah, film
animasi telah berkembang pesat meskipun baru satu abad usianya. Dimana awal
sejarahnya sama dengan lahirnya cinema pada tahun 1895 oleh Lumiere Brothers di
Perancis. Dilanjutkan dengan munculnya “trick film” oleh Georges Mellies pada
tahun 1896 setelah melihat pertunjukan “sinematografi” Lumiere tahun 1895. Pada
saat itu animasi telah hadir sebagai “trik” namun kehadirannya belum disadari
sebagai sebuah film animasi sebagaimana yang dikenal saat ini.
Baru empat tahun kemudian, yaitu pada
tahun 1899 muncul film animasi pendek (full animation) dengan teknik stop
motion pertama di dunia yang dibuat oleh Arthur Melbourne-Cooper yang berjudul
“Matches: An Apeal”, yang dilanjutkan dengan animasi berbasis gambar (hand
drawn animation) pertama yang dibuat oleh seorang kartunis Amerika James Struat
Blacton yang berjudul “Humorous Phases of Funny Faces” pada tahun 1906.
Sedangkan film animasi panjang (feature) pertama yang tercatat dalam sejarah
adalah animasi siluet “Adventures of Prince Achmed” yang diproduksi oleh Lotte
Reiniger dari Jerman pada tahun 1926.
Animasi kemudian dikenal diseluruh
dunia dan menjadi industri besar yang menandai era emas animasi tradisional
(golden age of animation), dimana puncaknya terutama berkat ketekunan dan kerja
keras Walt Disney dan timnya dengan memproduksi film animasi panjang berwarna
pertama di dunia pada tahun 1937 yang berjudul “Snow White and Seven Dwarft”.
Dari teknik, visual, cerita, media, dan teknologi yang sederhana di awal tahun
1900an berkembang menjadi bentuk yang lebih kompleks di era Disney.
Bentuk dan kompleksitas animasi terus
bertambah terutama setelah ditemukanya televisi sebagai media elektronik baru
pada tahun 50an yang menandai era baru dalam animasi yang disebut dengan “era
animasi televisi”. Media baru ini menjadi medium bagi animasi terutama animasi
serial yang mencapai puncak kejayaannya hingga akhir tahun 70an. Puncak
perkembangan animasi berikutnya adalah setelah ditemukanya teknologi digital
yang lebih maju pada tahun 80an. Tepatnya setelah berdirinya Pixar Studio tahun
1986 sebagai studio animasi komputer pertama. Namun dampaknya baru terasa
setalah 10 tahun kemudian (tahun 90an) terutama melalui visual effect pada film
seperti Terminator, Forest Gump, dll.
Hingga awal puncaknya yang ditandai
dengan dirilisnya film animasi panjang 3 dimensi pertama didunia “Toy Story”
pada tahun 1995 oleh studio animasi Pixar. Munculnya Toy Story dianggap sebagai
tonggak baru film animasi 3 dimensi di era digital.Maka hingga saat ini,
bentuk, media, industri, teknologi, cerita, dsb dalam film animasi telah
mengalami perubahan yang sangat luar biasa jika dibandingkan dengan awal film
animasi pertama diciptakan. Animasi muthakir di era digital animasi global
termasuk yang hibrid dengan film live shot seperti Lord of the Ring,
Transformer, Narnia, The Hobbit, dan animasi 3d seperti Madagaskar, Finding
Nemo, Cars, Toy Story 3, Monster Inc, Sherk, Ice Age, Brave, Frozen, dsb, yang
rilis hampir sepanjang tahun adalah bentuk kompleksitas animasi yang sudah jauh
melampaui era-era sebelumnya, baik dari sisi bentuk / rupa, gerak animasi,
teknologi, media, cerita, dsb.
Kompleksitas yang menonjol terutama
mewujud pada detail dan gerak yang melampui realisme (hyperelisms) yang
memungkinkan segala fantasi, cerita, dan imajinasi visual yang tidak bisa
diwujudkan di era-era sebelumnya kini menjadi nyata dan seolah hadir dalam
realita berkat hadirnya teknologi digital.
Dalam hubungannya dengan film,
Indonesia telah lama mengenal dan bersentuhan dengan film. Dalam catatan
Misbach Yusa Biran (2009) film telah masuk dan di kenal di Indonesia sejak awal
abad 20. Terbukti dengan hadirnya beberapa bioskop terutama di batavia sebagai
ibukota Indonesia masa kolonial Belanda. Lalu bagaimana dengan animasi?. Jika
menilik perkembangan animasi dunia sejak masa awal kemunculannya pada awal abad
20 hingga kini, maka muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar.Mulai dari
pertanyaan mengenai bagaimana sejarah perkembangan animasi di Indonesia?Serta
bagaimana peran dan kontribusi animasi Indonesia dalam sejarah animasi dunia?
Yang dalam buku “The World History of Animation” karya Stephen Cavalier (2010)
tidak satupun karya dan nama animator atau film animasi Indonesia disebut.
Apakah memang tidak ada kontribusi animasi Indonesia dalam sejarah animasi
dunia? Lalu bagaimana dengan sejarah animasi di Indonesia sendiri?Sudahkah ada
kajian sejarah yang dalam dan komprehensif yang berusaha meninjau dengan teliti
perkembangan animasi Indonesia? Ternyata penulis mendapati kenyataan bahwa
masih sangat sedikit yang menulis atau meneliti dengan serius animasi di
Indonesia. Belum ada sejarawan yang secara khusus meneliti sejarah animasi
Indonesia.
Meskipun bukan sejarawan, Gotot
Prakosa adalah salah satu atau mungkin bisa disebut satu-satunya orang yang
pernah menulis dan meneliti sejarah animasi Indonesia melalui tesisnya yang
berjudul “Film Animasi Indonesia pada Masa Reformasi” pada tahun 2004.
Sedangkan tulisan yang lebih banyak beredar, khususnya di dunia maya adalah
tulisan yang hanya berupa tinjauan singkat animasi Indonesia tanpa proses
kajian sejarah yang mendalam. Tulisan atau artikel singkat tersebut banyak
muncul di internet lebih sebagai tulisan pribadi atau opini penulisnya sehingga
sulit untuk diverifikasi kebenarannya dalam konteks sejarah. Sangat minimnya
penelitian sejarah tersebut juga menyingkap kenyataan akan miskinnya kajian
animasi di Indonesia dan rendahnya kontribusi terutama dari para akademisi
terhadap sejarah perkembangan animasi Indonesia. Hal tersebut diperparah lagi
dengan ketiadaan database yang lengkap dan akurat yang mendokumentasikan karya animasi
yang dibuat oleh para animator Indonesia.
Berdasarkan uraian diatas, sekaligus
dengan melihat perkembangan animasi Indonesia yang belum pernah mapan dan
mencapai kejayaan layaknya medium seni yang lain sepeti film dan komik pada
tahun 70 hingga 80an, dan bangkitnya kembali komik dan film di tahun 2000an.
Juga melihat realitas yang harus dibuktikan melalui kajian sejarah, bahwa
animasi Indonesia berkembang tanpa arah dan tujuan dan lebih bersifat
"chaotic" dan tidak menjadi bagian penting dalam industri dan
pendidikan di tanah air hingga era reformasi. Sedangkan menurut Prakosa (2010),
Indonesia melalui Dukut Hendronoto atas visi Soekarno telah membuat animasi
pertama berjudul “Si Doel Memilih” pada tahun 1955. Artinya Indonesia telah
lebih dari setengah abad lampau telah bisa memproduksi animasi sendiri. Ini
menjadi ironis jika dibandingkan dengan negeri jiran Malaysia yang populer
dengan animasi Upin-Ipin nya, dimana mereka baru merilis animasi pertama tahun
1983, sebuah animasi kartun berjudul “Hikayat Sang Kancil” produksi Film Negara
Malaysia (FNM) (Harun, 2008). Maka, kajian sejarah animasi Indonesia sangatlah
penting, terutama untuk memetakan, mendokumentasikan, sekaligus melakukan
kajian atas karya animasi yang pernah dibuat atau diproduksi oleh para kreator
animasi Indonesia.
Referensi :
https://idseducation.com/articles/pengertian-dan-arti-desain-grafis/
https://idseducation.com/articles/apa-itu-animasi/
http://www.kikiwai.com/sejarah-dan-perkembangan-animasi-di-dunia/
https://animation.binus.ac.id/2017/02/08/sejarah-animasi-indonesia-sebuah-pengantar/
https://idseducation.com/articles/apa-itu-animasi/
http://www.kikiwai.com/sejarah-dan-perkembangan-animasi-di-dunia/
https://animation.binus.ac.id/2017/02/08/sejarah-animasi-indonesia-sebuah-pengantar/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar