Phobia

DIDASKALEINOPHOBIA




Didaskaleinophobia adalah takut sekolah atau takut pergi ke sekolah.Hampir 2 sampai 5% dari anak-anak pergi sekolah diketahui ditimbulkan dengan fobia tersebut. Kata Didaskaleinophobia berasal dari bahasa Yunani didasko makna untuk mengajar dan phobos yang berarti keengganan atau rasa takut . Istilah lain yang umum untuk takut sekolah Scholionophobia yang berasal dari bahasa Latin scius untuk 'mengetahui'.

Anak sering dikenal "membolos" atau bolos sekolah. Namun, anak-anak yang melakukannya tidak selalu takut kemarahan sekolah-atau kebosanan adalah alasan yang lebih umum di balik perilaku mereka. Tokoh terkenal Mark Twain Tom Sawyer juga sering bermain membolos dari sekolah tetapi ia tidak menderita dari rasa takut fobia sekolah.Sebaliknya, ia hanya memiliki 'hal-hal yang lebih baik untuk melakukan' seperti menemukan petualangan di luar yang menyenangkan.

Dalam kasus Didaskaleinophobes, pikiran hanya pergi ke sekolah dapat memicu serangan panik penuh sesak nafas. Kebanyakan psikolog percaya bahwa fobia seperti biasanya lebih sering terjadi pada prasekolah usia anak 4-6 tahun. Hal ini sering disebabkan oleh fakta bahwa mereka meninggalkan keamanan rumah mereka untuk pertama kalinya. Seringkali, diagnosis fobia ini sulit karena anak muda tidak dapat mengekspresikan ketakutannya akurat.


Penyebab Didaskaleinophobia

Phobia Sekolah, diagnosis Didaskaleinophobia sering membutuhkan analisis mendalam sebagai anak muda mungkin tidak takut sekolah per se; melainkan adalah takut pengganggu atau naik di bus sekolah, atau anjing menakutkan ditemui dalam perjalanan ke sekolah, atau guru terutama yang ketat yang mungkin menyebabkan masalah.

Anak-anak antara usia 4-6 yang menderita takut fobia sekolah biasanya memiliki separation anxiety.Mereka takut mereka mungkin tidak melihat ibu mereka (atau yang dicintai) lagi setelah pergi ke sekolah.Sebuah peristiwa negatif atau trauma (perceraian orang tua, kematian dll) saat ini juga dapat memperkuat rasa takut sekolah di mana pikiran recreates respon fobia berulang sebagai mekanisme pertahanan terhadap berita traumatis lebih lanjut.

Beberapa anak sekolah menengah (13 sampai 15 tahun) mungkin juga menderita Didaskaleinophobia. Ini adalah waktu ketika pekerjaan sekolah cenderung meningkat pesat, dan siswa sering harus berurusan dengan topik yang sulit di Matematika, Ilmu dll Pada saat yang sama, tubuh mereka juga mengalami perubahan yang terkait dengan remaja dan pubertas dan alami dapat menjadi sulit waktu dengan hormon mengamuk mereka.

Gejala takut fobia sekolah
      ·         Takut fobia sekolah memanifestasikan dirinya dalam bentuk berbagai gejala fisik dan emosional.
 ·         anak-anak muda mungkin menangis, menjerit, atau memiliki serangan kecemasan penuh sesak nafas di pikiran harus pergi ke sekolah. Mereka berpura-pura sakit untuk menghindari sekolah. Beberapa juga cenderung menangis sepanjang malam sebelumnya. Hal ini dapat sangat berusaha dan frustasi bagi orang tua karena mereka sering tidak dapat membantu anak meringankan kecemasan luar biasa.
  ·         anak mungkin memiliki pikiran yang konstan tentang kematian / meninggal (terutama kematian orang yang dicintai) ketika di sekolah. Hal ini mungkin membuat dia / terlalu clingy begitu banyak sehingga s / dia mungkin bayangan orang tuanya terus di sekitar rumah. fobia lainnya juga dapat dilihat pada anak, termasuk rasa takut ditinggal sendirian, takut gelap, takut monster / hantu dll
 ·         Pusing, jantung berdebar-debar, mulut kering, keringat berlebihan, sesak napas, mual, dan penuh serangan panik ditiupkan beberapa gejala lain dari Didaskaleinophobia.
  ·         Remaja mungkin tidak berbicara tentang phobia- mereka Namun, mereka akan menunjukkan perilaku penghindaran seperti datang dengan pura-pura sakit atau alasan lain untuk menghindari pergi ke sekolah. Depresi adalah gejala umum dari fobia.


Ada beberapa tanda yang dapat dijadikan sebagai kriteria phobia sekolah, yaitu:
·         Menolak untuk berangkat ke sekolah
·         Mau datang ke sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta pulang
·         Pergi ke sekolah dengan menangis, menempel terus dengan orang tua atau
pengasuhnya, atau menunjukkan tantrum-nya seperti menjerit-jerit di kelas,
·         agresif terhadap anak lainnya (memukul, menggigit, dsb.) atau pun menunjukkan sikap-sikap melawan/menentang gurunya Menunjukkan ekspresi/raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar diijinkan pulang dan ini berlangsung selama periode tertentu.
·         Keluhan fisik yang sering dijadikan alasan seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual, muntah-muntah, diare, gatal-gatal, gemetaran, keringatan, atau keluhan lainnya. ·         Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal di rumah.
·         Mengemukakan keluhan lain (diluar keluhan fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke sekolah


CONTOH KASUS Didaskaleinophobia

Dua minggu yang lalu, saya berkonsentrasi untuk menangani siswa yang tidak mau berangkat ke sekolah dikarenakan memiliki masalah di sekolah yang belum terselesaikan. Namanya Aman (saya pernah membahasnya dalam artikel saya yang berjudul Aku Hanya Diam Ketika Kalian Memanggilku Autis). Pada artikel tersebut, saya menceritakan bahwa Aman memiliki masalah ketidakmampuan menjalin hubunga sosial yang baik dengan teman sebayanya dikarenakan terlalu banyak bermain game online. Semakin berjalannya waktu dan ketidakmampuan Aman untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, masalah Aman ini menjadi meluas. Tidak hanya dengan teman-teman sebayanya tetapi juga dengan guru-guru pengajar.

Yang menjadi perhatian saya adalah ketika Aman berbicara dengan orang lain. Tidak terfokus dengan lawan bicara, hanya tersenyum-senyum sambil menggerakkan kepalanya dengan hitungan patah-patah seperti boneka kayu yang kaku dan pandangan kosong lurus ke depan. Hitungan fokus untuk menatap lawan bicara hanya kurang dari 6 detik dan fokus pada topik pembicaraan hanya kurang dari 9 detik. Pola seperti ini, terulang terus menerus ketika Aman dihadapkan pada situasi yang mengharuskan dia untuk berkomunikasi dengan dua orang atau lebih.
Pola yang terulang terus-menerus setiap kali berbicara dengan Aman,membuat teman-teman sekelasnya menjauhi Aman. Bahkan ada seorang guru yang membentak Aman dengan menggunakan kata “gendheng dan autis.”


Masalah baru muncul. Aman tidak hadir di sekolah sampai hampir 1 minggu. Menurut pengakuan ibunya, setiap disuruh berangkat ke sekolah, badan Aman mendadak panas dan kakinya dingin yang disertai dengan diare. Empat surat izin tidak masuk karena sakit dari orang tua Aman, terdapat diatas meja kerja saya. Tiga kali diperiksakan ke dokter oleh orang tuanya, tidak diketahui adanya penyakit berbahaya. Menurut analisa dokter, sakitnya Aman dikarenakan Aman mengalami stres berat dan ketakutan akan sesuatu. Kepada ibunya, Aman bercerita kalau dia takut berhadapan dengan guru yang mengatakan dia gendheng dan autis. Sehingga membuat dia takut berangkat ke sekolah.



Gejala yang dialami oleh Aman, menunjukkan bahwa Aman terserang Phobia Sekolah. Menurut Jacinta F. Rini, phobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun hilang ketika "masa keberangkatan" sudah lewat atau pada hari Minggu atau hari libur. Phobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapi suatu pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolah.


Yang bisa Dilakukan pada orang tua adalah
      ·         Mengetahui sejak awal gejala yang muncul pada anak sehingga bisa ditangani lebih cepat. Gejala yang muncul ini terjadi pada anak yang berbeda dengan kebiasaan sehari-hari.

·         Tanyakan pada anak sebab terjadinya perubahan tersebut dan beri arahan apabila perubahan itu berdampak negatif bagi anak dan masa depannya.

·         Membantu anak agar bisa menangani masalahnya sendiri dengan memberikan nasehat atau saran serta menanamkan rasa tanggung jawab.
·         Orang tua lebih terbuka atas masalah anak karena masalah yang dialami oleh jaman sekarang jauh berbeda dengan anak-anak jaman dahulu.

·         Berkunsultasi dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan masalah phobia sekolah anak seperti dengan guru dan psikolog 
     ·         Apabila siswa jarang masuk atau tidak masuk pada hari-hari tertentu, segera cari tahu apa penyebabnya. 

·         Bekerja sama dengan guru bidang studi dan wali kelas terkait dengan phobia sekolah yang dialami siswa.
 
 


http://www.kompasiana.com/miss.rochma/contoh-kasus-phobia-sekolah-dan-penanganannya_550098f08133110b1afa78b0

Iman Akbar Ibrahim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar